''Kamu sadar ga kalau selama ini kamu hanya mencintai hantu? Dia sama saja seperti hantu yang tidak bisa kamu sentuh. Apa yang bisa kamu pegang itulah yang seharusnya kamu tuju. Kadang apa yang benar-benar kita ingini adalah sesuatu yang seharusnya tak boleh kita dapatkan karena dia membutakan. Kamu seharusnya berhati-hati dengan apa yang kamu ingini.''
-Ruwi Meita-
Yak, tadinya gw mau buat resume ttg Breaking Dawn-nya Steph Meyer. Tapi, berhubung sudah banyak blognya-para-gadis yang membahas tuh novel, dan juga bukunya lagi dipinjem sama temen daku yang sampai sebulanan ini belum dikembalikan juga (woi, minjem apa minta?). Jadinya gw ganti postingannya dgn membahas ttg novelnya si Ruwi Meita aja y.
Sebenarnya novel ini genrenya lebih ke misteri, dan kadang disisipin dgn adegan2 vulgar. Ceritanya sendiri mengenai pengungkapan kisah pembunuhan seorang PSK dan teman cowoknya yg ternyata gay. Si PSK ini biasa memberikan pelayanan dari internet, menggunakan fasilitas chatting-an. Karna menurut dia cara ini lebih aman dibandingkan yg konvensional. Namun siapa yang nyangka kalau pekerjaannya malahan menjadi penyebab kematian si PSK.
[Ih serem ya kalo kejadiannya ada di dunia nyata]
Internet memang seperti dua mata koin logam. Ada sisi positif dan negatifnya. Kalau kita bisa memanfaatkan kecanggihan teknologi dengan lebih bijaksana, maka segi positif yg kita dapat. Kita bisa dapat kenalan baru, bisa mendapatkan beragam informasi, bisa jadi sarana buat kampanye, bisa mencurahkan uneg2, bahkan bisa meraup dollar dr internet.
Tapi terkadang terlintas di kepala kita untuk menggunakan internet lebih dari sekadar mendapatkan kenalan, atau semacamnya.
Gw jadi keinget (waktu jaman2nya gw masih gaptek dulu) ada temen dekat gw yang hobi banget nongkrong di warnet. Dia yang ngenalin gw dgn dunia chating. Awalnya si ibu ini cuma iseng aja chating2an. Dia dapat banyak kenalan baru. Dari sabang sampai merauke. Dari selat Bering sampai laut Merah. Dan pada akhirnya dia menemukan cowok yang enak buat diajak ngobrol, pokoknya nyambung lah. Dari tulisannya sih kayaknya si cowok ini termasuk golongan intelek. Tampangnya juga lumayan. Dia juga ngakunya masih single. Makanya si ibu langsung kesemsem sama nih laki. Tiap jalan sama gw pasti obrolannya ga jauh2 dari si-cowok-dunia-maya. Sampai suatu saat temen gw udah ga bisa lagi menahan keinginannya untuk bertemu si cowok.
Tapi sayangnya nih laki jauh aja gitu rumahnya dari sini, bukan beda pulau lagi tapi udah beda benua.
Ya sudah, dengan berat hati si Ibu hanya bisa puas dengan melihat tulisan dan tampang cowoknya dari layar datar, tanpa bisa menyentuh fisiknya.
Tapi untungnya si Ibu sekarang sudah menemukan belahan jiwanya. Walaupun sesekali dia masih suka chating2an sama si pria bule ituh.
(Eh maap jeng, daku jadi buka2 kisah lama lo. Btw kok gw jadi nulis ttg masa lalu temen gw ya?)
Ya sud, intinya sih gw cuma menyarankan, coba manfaatkan teknologi ini dengan lebih berhati-hati dan bijaksana. Jangan sampai nantinya internet menjadi senjata makan tuan. (hehe belagu ya gw, padahal sendirinya sering buat curhatan ga mutu lewat internet)
-Ruwi Meita-
Yak, tadinya gw mau buat resume ttg Breaking Dawn-nya Steph Meyer. Tapi, berhubung sudah banyak blognya-para-gadis yang membahas tuh novel, dan juga bukunya lagi dipinjem sama temen daku yang sampai sebulanan ini belum dikembalikan juga (woi, minjem apa minta?). Jadinya gw ganti postingannya dgn membahas ttg novelnya si Ruwi Meita aja y.
Sebenarnya novel ini genrenya lebih ke misteri, dan kadang disisipin dgn adegan2 vulgar. Ceritanya sendiri mengenai pengungkapan kisah pembunuhan seorang PSK dan teman cowoknya yg ternyata gay. Si PSK ini biasa memberikan pelayanan dari internet, menggunakan fasilitas chatting-an. Karna menurut dia cara ini lebih aman dibandingkan yg konvensional. Namun siapa yang nyangka kalau pekerjaannya malahan menjadi penyebab kematian si PSK.
[Ih serem ya kalo kejadiannya ada di dunia nyata]
Internet memang seperti dua mata koin logam. Ada sisi positif dan negatifnya. Kalau kita bisa memanfaatkan kecanggihan teknologi dengan lebih bijaksana, maka segi positif yg kita dapat. Kita bisa dapat kenalan baru, bisa mendapatkan beragam informasi, bisa jadi sarana buat kampanye, bisa mencurahkan uneg2, bahkan bisa meraup dollar dr internet.
Tapi terkadang terlintas di kepala kita untuk menggunakan internet lebih dari sekadar mendapatkan kenalan, atau semacamnya.
Gw jadi keinget (waktu jaman2nya gw masih gaptek dulu) ada temen dekat gw yang hobi banget nongkrong di warnet. Dia yang ngenalin gw dgn dunia chating. Awalnya si ibu ini cuma iseng aja chating2an. Dia dapat banyak kenalan baru. Dari sabang sampai merauke. Dari selat Bering sampai laut Merah. Dan pada akhirnya dia menemukan cowok yang enak buat diajak ngobrol, pokoknya nyambung lah. Dari tulisannya sih kayaknya si cowok ini termasuk golongan intelek. Tampangnya juga lumayan. Dia juga ngakunya masih single. Makanya si ibu langsung kesemsem sama nih laki. Tiap jalan sama gw pasti obrolannya ga jauh2 dari si-cowok-dunia-maya. Sampai suatu saat temen gw udah ga bisa lagi menahan keinginannya untuk bertemu si cowok.
Tapi sayangnya nih laki jauh aja gitu rumahnya dari sini, bukan beda pulau lagi tapi udah beda benua.
Ya sudah, dengan berat hati si Ibu hanya bisa puas dengan melihat tulisan dan tampang cowoknya dari layar datar, tanpa bisa menyentuh fisiknya.
Tapi untungnya si Ibu sekarang sudah menemukan belahan jiwanya. Walaupun sesekali dia masih suka chating2an sama si pria bule ituh.
(Eh maap jeng, daku jadi buka2 kisah lama lo. Btw kok gw jadi nulis ttg masa lalu temen gw ya?)
Ya sud, intinya sih gw cuma menyarankan, coba manfaatkan teknologi ini dengan lebih berhati-hati dan bijaksana. Jangan sampai nantinya internet menjadi senjata makan tuan. (hehe belagu ya gw, padahal sendirinya sering buat curhatan ga mutu lewat internet)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar