Gw sebenarnya bukan pecinta bandminton sejati. Pun menyukai badminton hanya sekadar bermain tiap minggu depan rumah, itupun waktu masih belum punya anak. Karena kesibukan ngurus anak, jadinya olahraga yang paling simple adalah jalan santai keliling komplek atau parkir mobil agak jauh dari kantor, biar bisa jalan agak jauhan. Gw juga lebih milih naik turun tangga dibandingkan lift.
Karena ga terlalu mengikuti perkembangan badminton, jadinya gw ga terlalu khatam pemain-pemain siapa aja yang sedang naik daun. Yang menjadi perhatian masyarakat kebanyakan mungkin hanya Susi Susianti dan Taufik Hidayat. Pertandingan yang dipertandingkan pun hanya sebatas Olimpiade atau Asian Games yang gw tahu. Makanya gw heran sendiri kenapa kok ya judul di atas bisa menjadi tema blog gw kali ini, setelah bertahun-tahun gw ga menulis ide yang bermutu buat dituangkan di blog.
Sejak Asian Games tahun ini dilaksanakan di Jakarta dan kota kelahiran gw Palembang, suka ga suka gw pun akhirnya tertarik untuk mengikuti perkembangan perhelatan ini. Tadinya hanya bisa berdecak kagum melihat pembukaan Asian Games yang pertunjukannya menurut gw bisa melebihi pembukaan Olimpiade dunia. Ternyata orang kita sebenarnya mampu untuk membuat pertunjukan sebagus itu. Two thumbs up for Mr Wisnu Utama. You and your team did a great work Pak 👍👍
Kemudian setelah pembukaan yang luar biasa itu, gw ga terlalu mengikuti perkembangan Asian Games. Karena kesibukan gw ngurus anak dan juga biasanya waktu pertandingan yang dilakukan pas jam kerja. Jadilah gw juga ga yang tertarik banget untuk ngikutin. Tapi kebiasaan itu berganti saat temen sekantor gw yang sangat tertarik dengan pertandingan Badminton dan, sampai bela-belain untuk meluangkan waktunya di depan tivi kantor hanya untuk melihat pertandingan yang satu itu. Sampai-sampai satu poli heboh gara-gara teriakan dia (lebay mode-on).
Tadinya gw biasa aja setiap dia membahas permainan si Jonathan Christie, salah satu pemain badminton termuda, yang gw yakin orang-orang yang baca blog (apalagi cewek-cewek) ini pasti udah tau siapa Jojo sebenarnya. Dia menjadi pusat perhatian khalayak ramai karena kesuksesannya menyabet emas di Asian Games tahun ini. Dia juga menyuguhkan selebrasi kemenangannya dengan membuka baju dan memperlihatkan perut kotak-kotaknya. Ditambah lagi wajahnya yang mirip oppa-oppa korea, sukses mencuri hati para gadis-gadis sampai emak-emak.
Sebagai perempuan gw ga menyangkal pasti terpesonalah dengan prestasi dia (catet: prestasi loh !!, denial mode-on). Secara setiap gw nonton tivi ada dia, liat instagram isinya dia lagi. Jadinya mau ga mau gw penasaran dengan sosok Jojo ini. Saat gw baca-baca berita tentang dia, kok ya prestasi yang paling menonjol ada di sosok teman seperjuangannya Anthony Ginting. Walaupun wajahnya ga setampan Jojo (tapi senyumnya buat meleleh juga sih 😁), sosok ini malah buat gw lebih tertarik, dia hanya menampilkan keprofesionalitasnya dalam bertanding. Tidak seperti temannya yang sibuk sana sini update instagram atau vlog, atau wara-wiri di setiap acara tivi. Dia lebih fokus pada profesinya sebagai seorang pemain badminton sejati. Walaupun dia gagal merebut emas, dan hanya dapat meraih perunggu di Asian Games, namun melihat sepak terjangnya yang mampu mengalahkan lawan-lawannya menuju semi final sudah memperlihatkan siapa dia sebenarnya. Kekalahannya pun disebabkan karena dia mengalami cedera kram otot parah, sehingga Ginting tidak bisa melanjutkan pertandingan melawan Shi Yuqi.
Setelah perhelatan Asian Games, gw terus tertarik untuk memantau permainan Ginting di pertandingan badminton bergengsi lainnya di luar negeri. Dalam waktu dekat ini Ginting dan pemain lainnya sibuk menghadapi Japan Open, China Open, dan Korean Open. Sayangnya Ginting mengalami kekalahan saat perdelapan final Japan Open menghadapi pebulutangkis asal Denmark, Viktor Axelsen, yang merupakan pemain peringkat pertama dunia versi BWF (Badminton World Federation).
Menghadapi kekalahan kemarin, tidak membuat Ginting patah semangat. Dia masih harus menghadapi perhelatan berikutnya, Victor China Open 2018. Dan ini adalah pertandingan pertama bagi Ginting dengan level super 1000 !!. Lawan-lawannya pun tidak main-main. Mereka adalah para juara dunia dengan peringkat 10 besar versi BWF. Dan yang membuat ginting menjadi sangat luar biasa di mata gw, dia mampu loooohh mengalahkan lawan-lawannya itu dengan performa serta stamina dia yang stunning banget !!.
Dari awal pertandingan saja dia sudah menghadapi seorang Lin Dan. Sosok ini adalah salah satu panutannya Ginting. Lin Dan banyak menyabet berbagai penghargaan bergengsi, sebut saja peraih gelar Olimpiade 2 kali, lima kali kejuaraan dunia, dan enam kali kejuaraan All England. Dari 13 pertandingan, Lin Dan mampu mengalahkan seorang Taufik Hidayat 10 kali. Julukannya adalah "Super Dan". Dibalik semua kesuksesannya itu, seorang Anthony Sinisuka Ginting mampu loh mengalahkannya !!!. Gw aja yang nonton sampe berdecak kagum. Butuh stamina dan performa yang kuat untuk mengalahkan sosok Lin Dan.
Setelah mengalahkan Lin Dan, Ginting harus bertemu lagi dengan sosok Viktor Axelsen. Lagi-lagi lawan main yang sangat berat. Namun karena berkat Tuhan dan kegigihan dari seorang Anthony Ginting, ia mampu melibas lawan mainnya hingga tak berkutik dan mampu membalas kekalahannya saat Japan Open yang lalu.
Kekalahan Viktor, mampu membawa Ginting berlaga di perempat final menghadapi lawan mainnya, Chen Long. Prestasi Chen Long pun tak main-main. Dia masuk jajaran 10 besar versi BWF. Pernah meraih perunggu di Olimpiade 2012 dan emas di Asian Games 2010. Walaupun pernah empat kali mengalahkan Chen Long, Ginting tidak besar kepala. Ia tetap serius menghadapi Chen Long. Dan dengan performanya yang baik, ia tetap mampu melaju ke babak semifinal.
Dari ketiga pertandingan tadi dan hanya dalam waktu tiga hari dan ketiganya dengan rubber set, pasti sebagai orang awam layaknya gw akan berfikir, "itu si Ginting ga kecapean apa ya ?", atau "staminanya terbuat dari apa sih sampai bisa mengalahkan ketiga lawan beratnya ?". Bahkan sampai media asing pun menjuluki Anthony Ginting sebagai " The Giant Killer ".
Julukan itu tidak membuat seorang Ginting menjadi berbesar kepala. Dia bahkan membuktikan julukan tersebut dengan menampilkan performanya yang luar biasa di Semifinal China Open. Dengan ketegangan selama pertandingan (sampai gw mungkin harus sering-sering cek ke dokter jantung), akhirnya Ginting mampu mengalahkan tuan rumah, Chu Tien Chen, dan berhasil membalaskan dendam saat kekalahannya di Asian Games kemarin serta membawanya melaju ke babak final China Open 2018, setelah semua teman-teman timnya gugur di babak sebelumnya.
Dan hari ini adalah penentuan apakah Anthony Sinisuka Ginting mampu memberikan performa yang bagus dalam menghadapi lawannya dari Jepang, Kento Momota, setelah kemarin Momota berhasil mengalahkan Shi Yuqi di babak semifinal. Mudah-mudahan Ginting mampu menyabet gelar juara China Open 2018, dan membuktikan pada dunia bahwa julukan The Giant Killer memang pantas disematkan padanya.