Mood penulis lagi sedih dikarenakan tagar save 'gempita' bertebaran di media sosial. Miris ya melihat anak berumur tiga tahun harus mengalami konflik rumah tangga orang tuanya yang berakhir menuju perceraian. Walaupun pihak ibunya gempi, giselle, baru melayangkan gugatan cerai, namun jika mediasi tidak berhasil, akhirnya akan berpisah juga. Demi alasan apapun perceraian tetap akan menyimpan kenangan yang menyakitkan bagi anak. Entah karena keegoisan dari orang tuanya yang tidak bisa saling mengalah demi buah hatinya, yang pasti anak akan menjadi korban. Sebut gw baperan atau apalah, setelah gw tahu berita tentang perceraian ini, gw nangis loh. Membayangkan anak yang tidak tahu apa2, masih polos, harus menerima kenyataan pahit ini, orang tua yang tidak rukun seperti dulu lagi. Mudah2an sih gempi tidak mengalami pertengkaran ayah ibunya. Karena jika mengalami, bisa menjadi trauma yang akan menghambat perkembangan psikologisnya.
Selama ini gw mengikuti instagram giselle, dan dari postingannya mencerminkan keluarga yang harmonis. Kurang apa coba mereka, sama-sama memiliki paras rupawan, anak yang manis, rumah yang mewah, karier yang sedang dipuncaknya. Bagi kacamata masyarakat pasti kehidupan mereka tidak ada masalah. Tapi pemikiran itu terbantahkan dengan dilayangkan surat gugatan cerai ke pengadilan agama dari pihak giselle. Pasti masyarakat kaget lah dengan adanya pemberitaan ini. Yang tadinya keluarga mereka baik2 aja, ga pernah terdengar adanya cekcok masalah rumah tangga, ternyata berakhir dengan perceraian. Pintar sekali ya mereka menyimpan masalah rumah tangganya, tanpa harus diketahui oleh publik.
Memang benar untuk urusan rumah tangga cukup anggota keluarga saja yang tahu. Kalau bisa ditutup rapat2 tanpa ada pihak ketiga yang terlibat. Untuk gw pribadi jika ada masalah rumah tangga kalau bisa akan gw selesaikan saat itu juga. Jika ada uneg-uneg yang ganjel di hati, entah karena masalah kerjaan, keuangan, keluarga besar, atau anak, pasti suami yang jadi tempat curhat. Dan alhamdulillah suami punya sifat sabar banget, dewasa lah, walaupun kadang dia punya uneg-uneg juga, kita saling mendengarkan walaupun mungkin gw tidak bisa kasih solusi yang berarti. Setidaknya ga ada hal sekecil apapun yang ditutup-tutupi. Karena bagi gw jika sudah berumah tangga maka suami adalah orang yang berhak mengetahui semua kehidupan pribadi kita. Dari masalah keuangan (termasuk pendapatan gw dan juga dia), kita saling mengetahui. Saling terbuka adalah salah satu kunci keharmonisan rumah tangga (menurut gw loh 😊).
Kadang kita juga saling cekcok satu sama lain. Beda pendapat dalam rumah tangga pasti ada. Inti dari pernikahan adalah menyatukan 2 kepala yang berbeda. Cinta aja tidak cukup. Jika dalam pernikahan, keduanya bisa saling memahami sifat satu sama lain, dan saling menerima kelebihan dan kekurangan pasangannya insyaAllah akan langgeng pernikahannya. Karena masa pacaran dengan saat menikah itu sangat sangat berbeda. Saat menikah kita akan bersama dengan pasangan 24/7. Jika tidak ada saling keterbukaan dan kita tidak bisa dengan ikhlas menerima kekurangan pasangan, maka pernikahan kita akan seperti di neraka.
Intinya, gw sangat menyayangkan keputusan orang tua gempi untuk berpisah. Karena akan berdampak pada tumbuh kembang si anak. Tapi keputusan yang mereka ambil pasti sudah dipikirkan masak2. Kita doakan semoga ini adalah pilihan terbaik bagi mereka. Dan kasih sayang kedua orangtua bagi gempi tidak berkurang sedikitpun.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar